Mengapa Bone Mineral Density (BMD, Bone Densitometry) Penting untuk Mencegah Osteoporosis?
INFOLABMED.COM - Osteoporosis dan osteopenia (massa tulang rendah) merupakan kondisi yang berisiko menyebabkan patah tulang.
Sayangnya, banyak individu baru menjalani pemeriksaan setelah mengalami patah tulang.
Baca juga : Uji Fosfatase Alkalin (Alkalin Phosphatase, ALP) dengan Isoenzim (serum) - Seri Pemeriksaan Laboratorium Klinik
Diagnosis osteoporosis seharusnya dilakukan sebelum patah tulang pertama terjadi agar tindakan pencegahan dapat segera dilakukan.
Apa Itu Bone Mineral Density (BMD)?
Bone Mineral Density (BMD) atau Bone Densitometry adalah metode pengukuran kepadatan mineral tulang.
Pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) umumnya dilakukan menggunakan Dual-Energy X-ray Absorptiometry (DEXA) yang memanfaatkan sinar-X dengan dua tingkat energi untuk mengukur kandungan mineral dalam tulang.
Beberapa metode lain yang dapat digunakan, meskipun kurang akurat dibandingkan DEXA, antara lain:
- Peripheral DXA (mengukur tulang radius atau kalkaneus)
- Quantitative Computed Tomography (QCT) yang membutuhkan dosis radiasi tinggi
- Ultrasonometri yang mengukur kepadatan tulang di tumit, jari, dan tibia
Siapa yang Perlu Menjalani Tes BMD?
Tes BMD dianjurkan terutama bagi:
- Wanita berusia 65 tahun ke atas
- Wanita dengan riwayat patah tulang setelah usia 40 tahun
- Individu dengan riwayat keluarga osteoporosis
- Wanita dengan kadar estrogen rendah atau menopause dini (<45 tahun)
- Pria dengan faktor risiko seperti alkoholisme, terapi steroid jangka panjang, kadar testosteron rendah, dan kebiasaan merokok
- Individu dengan berat badan rendah (<70 kg)
- Mereka yang mengalami osteopenia, patah tulang, atau menderita penyakit seperti hiperparatiroidisme primer
Bagaimana Hasil BMD Dinyatakan?
Hasil BMD diekspresikan dalam bentuk T-score dan Z-score:
- T-score: Perbandingan dengan kepadatan tulang puncak orang dewasa muda. WHO mengklasifikasikan hasilnya sebagai berikut:
- Normal: T-score -1.0 hingga +1.0
- Osteopenia: T-score -2.5 hingga -1.0
- Osteoporosis: T-score -4.0 hingga -2.5
- Z-score: Perbandingan dengan individu seusia dan jenis kelamin yang sama
Semakin negatif nilai T-score, semakin tinggi risiko patah tulang. Setiap penurunan 1 SD setara dengan kehilangan 10%-12% massa tulang.
Persiapan dan Prosedur Pemeriksaan
Sebelum Tes:
- Pasien tidak perlu puasa sebelum pemeriksaan
- Diberikan informasi mengenai tujuan dan proses tes
- Pasien harus tetap diam selama pemindaian berlangsung
Selama Tes:
- Pasien berbaring dalam posisi supine (terlentang)
- Menggunakan bantal penyangga untuk posisi kaki optimal
- Pemindaian berlangsung sekitar 10 menit
Setelah Tes:
- Hasil diberikan dalam bentuk cetakan yang mencakup gambar tulang, nilai T-score dan Z-score
- Hasil abnormal akan dilaporkan kepada dokter yang menangani
Pencegahan Osteoporosis
Untuk mencegah osteoporosis, USPSTF merekomendasikan:
- Asupan kalsium yang cukup (1.200 mg/hari) dan vitamin D (400-800 IU/hari)
- Olahraga beban secara teratur
- Menghindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan
- Pemeriksaan BMD setiap 2 tahun bagi individu berisiko tinggi
Kontraindikasi Tes BMD
Pemeriksaan BMD tidak disarankan bagi:
- Wanita yang sedang hamil
- Pasien yang tidak dapat berbaring diam karena kondisi tertentu seperti usia lanjut, gangguan mental, atau nyeri berat
Bone Mineral Density (BMD) merupakan metode utama untuk mendeteksi kepadatan tulang dan mendiagnosis osteoporosis sebelum terjadi patah tulang.
Baca juga : Bone Marrow Biopsy: Prosedur, Indikasi, dan Risiko yang Perlu Diketahui
Pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) sangat direkomendasikan bagi wanita usia lanjut dan individu dengan faktor risiko.
Dengan deteksi dini, langkah-langkah pencegahan seperti perubahan gaya hidup dan terapi farmakologis dapat segera dilakukan.
Artikel ini hanya untuk tujuan informasi. Untuk nasihat atau diagnosis medis, konsultasikan dengan profesional.***
Post a Comment