Epstein-Barr Virus: Uji Mononukleosis, Antibodi EBV, dan Monospot Test dalam Diagnosis Infeksi
INFOLABMED.COM - Mononukleosis infeksiosa (IM) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus herpes Epstein-Barr Virus (EBV).
Penyakit Mononukleosis infeksiosa (IM) ditandai dengan kelelahan, sakit tenggorokan, demam, faringitis, limfadenopati, dan splenomegali.
Baca juga : Uji Antibodi Virus Herpes Simpleks (HSV) Serum - Seri Pemeriksaan Laboratorium Klinik
Mononukleosis bersifat self-limiting, sehingga pengobatan lebih difokuskan pada pengendalian gejala.
Peran Antibodi Heterofil dalam Diagnosis
Selain peningkatan limfosit dan monosit dalam kelenjar getah bening, IM juga merangsang produksi antibodi heterofil.
Antibodi jenis IgM ini tidak secara alami ditemukan pada manusia dan menyebabkan aglutinasi eritrosit domba atau kuda.
Antibodi ini mulai terbentuk dalam 4 hingga 7 hari setelah timbulnya penyakit, mencapai puncaknya pada minggu ke-2 hingga ke-5, dan dapat bertahan selama beberapa bulan hingga satu tahun.
Heterophile Antibody Titer (HAT) memiliki tingkat positif sekitar 90% pada kasus mononukleosis infeksiosa.
Tes heterofil positif, biasanya dilakukan dalam bentuk Monospot Test, dikombinasikan dengan gambaran klinis klasik, sudah cukup untuk menegakkan diagnosis mononukleosis infeksiosa.
Uji Antibodi Epstein-Barr Virus (EBV Antibody Test)
Pada kasus di mana hasil HAT negatif atau terdapat indikasi kasus atipikal, keberadaan EBV dapat dikonfirmasi melalui pengujian antibodi spesifik EBV.
Diagnosis mononukleosis dapat ditegakkan dengan tingginya kadar antibodi IgM dan IgG:
- IgM: Muncul lebih awal dan menghilang dalam 3 hingga 6 minggu setelah timbulnya gejala.
- IgG: Menunjukkan infeksi sebelumnya, biasanya muncul dalam 3 minggu hingga beberapa bulan setelah onset gejala.
Interpretasi Hasil Tes
Nilai Normal:
- Negatif
Makna Hasil Abnormal (Positif):
Hasil positif dapat mengindikasikan:
- Mononukleosis infeksiosa
- Virus Epstein-Barr
- Limfoma Burkitt
- Sindrom kelelahan kronis
- Leukemia limfositik
- Hepatitis virus
- Kanker nasofaring
- Penyakit Hodgkin
- Malaria
- Rubella
- Lupus eritematosus sistemik
- Sarkoidosis
- Artritis reumatoid
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Tes
- Hemolisis sampel darah dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat.
Prosedur Pengambilan Sampel dan Tindakan Pasca-Tes
Sebelum Tes:
- Pasien tidak perlu menjalani puasa sebelum tes.
- Dokter akan menjelaskan pentingnya tes ini dan perlunya pengambilan sampel darah.
Selama Tes:
- Sampel darah sebanyak 7 mL diambil menggunakan tabung koleksi dengan tutup merah.
- Petugas medis akan menggunakan sarung tangan selama prosedur.
Setelah Tes:
- Tekanan diberikan pada area pengambilan darah untuk mencegah perdarahan.
- Sampel darah dilabeli dan dikirim ke laboratorium.
- Hasil abnormal harus segera dilaporkan kepada dokter.
Peringatan Klinis
- Pemeriksaan jumlah leukosit dengan diferensial sebaiknya dilakukan bersamaan untuk mengidentifikasi limfositosis dan keberadaan limfosit atipikal, yang umum ditemukan pada mononukleosis infeksiosa.
Baca juga ; Mengenal Herpes Simplex Virus (HSV) 1/2 dan Varicella Zoster Virus (VZV) PCR: Diagnosis Akurat untuk Infeksi Virus
- Jika tes Monospot awal negatif, tetapi mononukleosis masih dicurigai, dokter dapat merekomendasikan pengulangan tes dalam satu minggu atau melakukan uji antibodi EBV untuk memastikan diagnosis.
Artikel ini hanya untuk tujuan informasi. Untuk nasihat atau diagnosis medis, konsultasikan dengan profesional.***
Post a Comment