Fetoskopi: Prosedur Visualisasi Janin yang Canggih Namun Penuh Risiko

Table of Contents

Fetoskopi Prosedur Visualisasi Janin yang Canggih Namun Penuh Risiko


INFOLABMED.COM - Fetoskopi (fetoscopy) adalah prosedur endoskopi medis yang digunakan untuk memungkinkan visualisasi langsung janin di dalam rahim. 

Prosedur Fetoskopi (fetoscopy) dapat dilakukan untuk tujuan diagnostik maupun terapeutik, seperti mengevaluasi cacat lahir atau melakukan intervensi medis pada janin, termasuk oklusi laser pada pembuluh darah abnormal.

Baca juga : Machine Learning, Teknik Pencitraan Dapat Meningkatkan Diagnosis Kanker Usus Besar

Tujuan dan Indikasi Fetoskopi

Fetoskopi umumnya digunakan untuk:

  • Menilai kemungkinan kelainan bawaan pada janin seperti spina bifida.
  • Mengambil sampel darah dan jaringan kulit janin.
  • Mengobati kondisi janin tertentu dengan bantuan teknologi laser.

Namun, karena prosedur ini bersifat invasif—melibatkan penyisipan fetoskop melalui dinding perut ke dalam rongga amnion—fetoskopi hanya direkomendasikan ketika terdapat kemungkinan tinggi bahwa janin mengalami kelainan atau ada riwayat keluarga dengan cacat lahir berat.

Biasanya, metode yang lebih aman seperti ultrasonografi janin, amniosentesis, atau chorionic villus sampling (CVS) menjadi pilihan utama sebelum fetoskopi dipertimbangkan.

Nilai Normal dan Abnormal

Hasil normal:
Tidak terdeteksi adanya cacat lahir atau kelainan lainnya.

Hasil abnormal dapat menunjukkan:

  • Cacat lahir seperti spina bifida.
  • Gangguan darah seperti hemofilia atau anemia sel sabit.
  • Penyakit kulit turunan tertentu.

Persiapan Sebelum Prosedur (Pretest)

  • Pasien perlu dijelaskan tujuan prosedur serta kemungkinan ketidaknyamanan akibat anestesi lokal dan tekanan dari fetoskop.
  • Pasien harus berpuasa selama 8 jam.
  • Diperlukan tanda tangan persetujuan (informed consent).
  • Pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi.
  • Detak jantung janin akan dipantau.
  • Obat penenang seperti meperidin dapat diberikan untuk menenangkan janin dan mengurangi rasa tidak nyaman ibu.

Tahapan Prosedur

  1. Pasien berbaring dalam posisi terlentang.
  2. Dilakukan USG untuk menentukan posisi janin dan plasenta.
  3. Perut dibersihkan, dan anestesi lokal diberikan.
  4. Insisi kecil dibuat pada perut ibu, dan fetoskop dimasukkan ke dalam rahim.
  5. Dilakukan observasi fisik janin serta pengambilan sampel darah dan jaringan kulit.
  6. Setelah selesai, fetoskop dikeluarkan, luka dijahit, dan perban dipasang.

Tindakan Setelah Prosedur (Posttest)

  • USG dapat dilakukan kembali untuk menilai kondisi janin dan cairan amnion.
  • Tanda vital ibu dipantau, termasuk pemeriksaan perdarahan dari vagina dan luka insisi.
  • Pasien dianjurkan untuk menghindari aktivitas berat selama 2 minggu.

Risiko dan Komplikasi

Fetoskopi membawa risiko serius seperti:

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Keguguran
  • Kelahiran prematur
  • Kebocoran cairan ketuban
  • Sensitisasi Rh (pada ibu Rh-negatif, kecuali janin juga Rh-negatif)

Pasien diminta segera menghubungi dokter kandungan jika mengalami:

  • Perdarahan vagina
  • Cairan keluar dari vagina atau luka operasi
  • Nyeri perut atau kram
  • Demam, menggigil, atau pusing

Kontraindikasi Fetoskopi

Fetoskopi tidak direkomendasikan pada pasien dengan:

  • Obesitas

Baca juga : Macam-Macam Pemeriksaan untuk Mendeteksi Kanker di Tubuh Secara Dini

  • Janin yang sangat aktif
  • Ketidakmampuan bekerja sama akibat faktor usia, status mental, rasa sakit, atau kondisi lain

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi. Untuk nasihat atau diagnosis medis, konsultasikan dengan profesional.***

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment